Sunday, November 24, 2013

Metro Indah Mall

 Sekilas tentang Metro Indah Mall  :
terletak di tengah kawasan Pusat Perdagangan Metro Trade Center. Metro Trade Center adalah sebuah kompleks pertokoan  yang terdiri dari 330 unit ruko dengan 2 lantai  dan 3 lantai, dimana terdapat ruko Tipe Eropa, Mediterania dan Oriental serta sebuah mal tematik, yaitu Metro Indah Mall yang dilengkapi area rekreasi: food court, water park, karaoke keluarga, fitness center, supermarket, area pameran dan masih banyak lagi.

Metro Indah Mall merupakan suatu area komersial tematik yang terbesar dan terlengkap di kawasan Bandung Timur. Sebagai satu – satunya pusat perbelanjaan yang menggabungkan konsep usaha belanja, rekreasi, dan wisata, Metro Indah Mall didukung dengan fasilitas yang lengkap, sarana dan prasarana yang memadai serta lokasi yang mudah dijangkau dari segala arah.

Kali ini kita jalan-jalan sambil nyebar brosur di Mall Metro Indah , ada apa seh di dalamnya yang membuat mall ini spesial, beda dengan mall lainnya...
ayo kita intip deh..cekidot....

Dengan konsep memadukan ruko dan mall, tempat ini terasa begitu luas dan lengakap, sagala aya kata orang sunda teh.hehehe..
lihat saja ratusan ruko yang mengelilinginya ada yang berjualan makanan minuman alias warung, resto dan kafe, ada perbankan, biro perjalanan, salon dan spa begitu juga tempat kursus ada juga.
Wah lengkap pokoknya.
Tempat yang nikmat untuk dikunjungi jika kita ingin berrefresing sekedar menikmati kuliner di arel ini.
Ada juga panggung untuk menanpilkan berbagai kesenian, saat penulis datang kesana ada pertunjukkan pentas seni dari suatu sekolah di Bandung.

Nah kalo yang ini suasana didalam mallnya sendiri, ada banyak outlet yang menawarkan ragam kebutuhan yaitu baju dan segala pernak-perniknya.



Curug Cinulang, Cicalengka, Sumedang Jawa Barat


Hari ini, minggu 24 November 2013, akhirnya kakiku menginjakkan juga ke wisata curug atau air terjun yang terkenal di Bandung ini yaitu curug Cinulang.

Perjalanan menuju curug Cinulang ini sangat lancar, jalan bypass sumedang lancar hingga desa menuju curug ini beraspal halus dan jarang yang berlubang-lubang.
Membuat nyaman perjalanan menuju curug cinulang. Ditambah lagi pemandangan kanan kiri jalan yang indah dengan persawahan dan pemukiman penduduk yang tertata rapi dan sejuk dipandang mata, pokoknya ga rugi deh perjalan asyik kita kali ini.


Melihat kehijauan yang begitu asri, lelah dan penat setelah sebulan bekerja hilang berganti dengan rasa takjub akan keindahan alam buatan Alloh yang maha Kuasa. Subhanalloh.
Akhirnya setelah 2 jam perjalanan dari bandung kota, sampai juga di lokasi curug cinulang.
Dua air terjun siap menanti untuk kita kunjungi.
Berbagai aktifitas mulai istirahat dibawah saung, mandi dibawah air terjun maupun bermain air dan berenang di areal air terjun sangat enak untuk dilakukan.
Ada banyak orang menjajakan makanan, jagung bakar, bala-bala, basreng tak ketinggalan pop mie dan kopi manisnya.
dengan harga yang relatif murah.




Yah, lumayan lah setalah bermain air di curug ini , badan menjadi segar kembali dan kita siap melanjutkan aktifitas esok hari.
oke deh sampai jumpa lagi di wisata lain yang lebih seru dan mengasyikkan..dadadadada...





Sunday, November 3, 2013

Desa Ubi Madu, Cilembu.

Minggu ini, tgl 3 Nopember 2013, perjalan asyk kita lanjutkan lagi di desa Cilembu, Sumedang jawa barat. Desa ini adalah desa penghasil ubi Cilembu alias ubi Madu yang rasanya Muanieessss sekali kayak madu, jika kita olah dengan di oven.
Kenapa kita berburu ubi Cilembu sampek jauh sekali kedesa asalnya?, karena harganya yang mahallah yang menggoda kita untuk mencari dimana desa asalnya ubi ini dan berapa harga jualnya di desanya sendiri . Memang harganya terpaut dua kali lipat. Kalo di kota sekilonya bisa sampe 12 ribu, tetapi didaerah asalnya sekilonya hanya 5 rb rupiah, murah khan ditambah lagi dengan sensasi tempat ubi itu sendiri yang keadaan alamnya indah dan asri.

Pemandangan alamnya yang sejuk dan hijau, dengan jalan yang berkelok-kelok naik turun dan sekitarnya ladang ubi yang menghijau luas, menambah semangat kita untuk mendatangi lokasi perkebunan ubi  cilembu, di desa Cilembu.
Berjajar kios-kios sepanjang jalan desa, yang menjajan ubi dalam keadaan mentah maupun matang.

Nah kalo udah dimasak dengan dioven, ubi ini rasanya manisss kayak madu. tuh dia penampakannya.


Jalan BRAGA dan pernik uniknya.

Jalan Braga adalah kawasan saksi bisu sejarah perjuangan rakyat Bandung melawan penjajah. Banyak bangunan yang berarsitektur Kolonial berjajar di sepanjang jalan ini

 
Mengujungi Kota Bandung kurang lengkap rasanya kalau belum mampir ke Jalan Braga. Kawasan yang penuh dengan toko pernak-pernik khas Kota Kembang ini memang asyik dikunjungi saat akhir pekan.
Awalnya, Jalan Braga merupakan jalan kecil di depan pemukiman sunyi. Maka tak heran jika jalan ini dulu sempat dikenal dengan nama Jalan Culik, karena rawan akan kejahatan. Namun, hadirnya toko-toko dan bar membuat citra yang mencekam di kawasan ini menjadi hilang.
Kawasan yang tidak pernah sepi selama 24 jam ini memang merupakan tempat lengkap bagi wisatawan. Berbagai jenis aksesoris, oleh-oleh, dan panganan khas Bandung tersedia di sini.
Selain wisata belanja, Jalan Braga juga dihiasi oleh arsitektur indah khas bangunan tempo dulu. Bangunan-bangunan peninggalan zaman penjajahan Belanda masih berdiri megah di sini.
Jalan Braga paling pas dinikmati dengan cara berjalan kaki. Jelas saja, sebab jalan ini merupakan kawasan pendestrian Kota Bandung yang ditetapkan saat Braga Festival digelar pada 2011 lalu. Semenjak itu, Jalan Braga makin ramai dikunjungi oleh para wisatawan.
Orang bilang, menyusuri Jalan Braga paling asyik saat malam hari. Lampu-lampu sepanjang jalan dan arsitektur bangunan menghadirkan sensasi masa lampau. Tapi jangan salah, menyusuri Jalan Braga di siang hari juga tak kalah seru, apalagi cuaca Kota Bandung yang terkenal sejuk setia menemani perjalanan Anda.
Nah, jika ingin mendokumentasikan perjalanan Anda di Braga dengan cara yang berbeda, Anda bisa menemui seniman lukis di sepanjang jalan ini. Mereka akan dengan sigap melukis wajah Anda dan keluarga di atas kanvas.
Jalan Braga terletak di pusat Kota Bandung. Tidak sulit sepertinya bagi Anda yang sering datang ke Kota Kembang untuk mampir ke Jalan Braga. Dari By Pass di Jalan Soekarno Hatta, Anda bisa berbelok ke arah Jalan Mohammad Toha dan ikuti jalan hingga sampai di Jalan Asia Afrika. Dari sana, Anda bisa bergeser ke arah utara dan sampailah di Jalan Braga.
Wara-wiri di sepanjang Jalan Braga memang asyik. Nah, tunggu apa lagi? Jadikan Jalan Braga sebagai destinasi akhir pekan Anda bersama keluarga.

Pada malam hari asyik juga kalo kita menelusuri jalan ini.
Sekian dulu jalan-jalan kita kali ini di Braga street, kapan-kapan disambung lagi dengan perjalanan wisata yang lebih asyik..da dadaaaa..

GEDUNG SATE DAN SEJARAHNYA.



Gedung Sate didirikan pada 27 Juli 1920, gedung ini awalnya memang dibangun sebagai pusat pemerintahan pada saat itu dimana Pemerintahan Belanda menetapkan Kota Bandung sebagai Ibukota negeri jajahannya di Indonesia. Pemilihan Kota Bandung didasarkan pada pertimbangan iklim yang cocok karena Kota Bandung begitu sejuknya ditambah pemandangan alam yang indah. Konon, iklim Kota Bandung saat ini senyaman Prancis Selatan di Musim panas.

Dengan penetapan pusat pemerintah itu, maka dibangunlah Gedung Sate atau Gouvernements Bedrijven sebutannya di masa itu dengan perencanaan yang dibuat secara matang oleh suatu tim yang diketuai Kolonel Purnawirawan V.L. Slors, beranggotakan antara lain Ir. J. Berger, arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan In G. Hendriks serta pihak "Gemeete van Bandoeng".

Tim bertugas merencanakan dan membangun berbagai gedung perkantoran yang merupakan pindahan dari keseluruhan departemen dan instansi lainnya yang berjumlah 14 dari Batavia (Jakarta) ke Bandung, termasuk pembangunan komplek perumahan untuk menampung sekitar 1500 pegawai pemerintahan. Setelah berhasil disusun perancanaan pembangunan GB, dilakukan peletakan batu pertama gedung "GB" pada tanggal 27 Juli 1920 oleh Johana Catherina Coops, putri sulung Walikota Bandung B. Coops dan Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia.

Pembangunan Gedung Sate melibatkan sekitar 2000 pekerja, 150 orang diantaranya pemahat atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton. Selebihnya adalah tukang batu, kuli aduk, dan peladen yang merupakan pekerja bangunan yang berpengalaman menggarap Gedong sirap (Kampus ITB) dan Gedong papak (Balai Kota). Mereka adalah pendudukan dari kampung Sekeloa, Coblong, Dago, Gandok, dan Cibarengkok.

Selama kurun waktu empat tahun lamanya, di awal tahun 1924 berhasil diselesaikan Kantor Pusat PTT kemudian dilanjutkan dengan pembangunan induk bangunan utama GB yang tuntas dikerjakan pada September 1924 termasuk bangunan perpustakaan.

Gedung sate ini terletak ditengah perkotaan , merupakan situs peninggalan penjajah belanda yang akan tetep dilestarikan keberadaannya. Saat ini dipakai sebagai gedung pemerintahan propinsi Jawa barat, tempat gubernur Aher dan wakilnya, Dedi Mizwar berkantor.

Gedung sate pada malam hari, bermandikan cahaya lampu yang membuat semakin indah tampaknya.

Gedung sate tampak dari belakang.